Abdurrahman Ibn Hasan
Suatu hari ada seorang santri yang tinggal dan mengaji di serambi masjid nabawi. Ia bernama Abdurrahaman ibn Hasan, seorang pemuda miskin dari mesir yang kesetiap harinya adalah mengaji dan mengaji. Tidak ada waktu yang santri itu habiskan tanpa mengaji. Sampai suatu ketika, ia merasa begitu lapar. Ia sadar bahwa ia tidak memiliki uang sepeserpun. Dan badannya badannya mulai tidak bisa menahan lapar lagi, karena selama tiga hari yang lalu perutnya belum ia isi.
Ia
meminta kepada Allah rizqi agar ia mampu bertahan hidup dan kembali melanjutkan
ibadahnya. Ia mengganjal rasa lapar itu dengan sholat. Ia terus melakukan
sholat sampai tidak terasa ia tertidur dalam sujud. Santri itu terbangun ketika
perutnya kembai berbunyi. Ia sudah tidak kuasa lagi menahan rasa lapar dalam
perutnya.
Santri
itu keluar dari serambi, berharap ada yang bisa ia jadikan rizqi. Ia melihat
sekeliling tidak ada penjual buah atau gandum yang lewat, lalu ia berjalan
lebih jauh. Tidak sengaja ia mencium bau harum yang membuat ia merasa lebih
lapar.
Santri
itu menelusuri bau harum itu, dan berakhir pada sebuah rumah janda yang
shalilah. Suaminya adalah mujtahid yang gugur dimedan perang dalam menegakkan
agama Allah. Dalam pikirannya apakah ia harus mampir ke rumah janda itu
kemudian meminta sedikit makanannya atau menjadi pembantu janda itu agar ia
bisa mendapat upah dari pekerjaanya. Santri itu berfikir cukup keras dan lama,
sampai ia sadari janda itu pergi meninggalkan rumahnya dengan buru-buru.
Ketika
ia berusaha mengejar langkah wanita itu, santri tersebut merasa lemah dan
lemas. Didekapnya perutnya yang kembali berbunyi. Dan ia mencium bau itu
kembali. Dalam benaknya apakah ia ambil saja makanan itu sambil menunggu wanita
itu pulang, kemudian ia jelaskan alasan ia meminta makanan itu. Akan tetapi itu
sama saja dengan mencuri, tapi perut ini sudah tidak bisa menahannya lagi.
Sampai kapan juga aku tidak paham kapan wanita itu dan nyawaku yang duluan
sampai.
Santri
itu berfikir keras, akan tetapi didorong atas nafsu makannya, ia memutuskan
untuk mengambil sedikit makanan itu dan meminta izin ketika wanita itu kembali.
Santri itu berjalan menuju rumah, dilihatnya jendela rumah wanita itu terbuka.
Dengan cepat ia mengambil kursi lalu menaikinya masuk ke melalui jendela rumah
itu. Disaat ia menemukan makanan diatas meja, santri itu kembali dihinggapi
kecemasan. Bagaimana jika makanan ini adalah bara neraka yang membakarku nanti
di hari akhir, bagaimana jika ternyata kenikmatan makanan yang ku rasa ini
adalah adzab yang pedih dikemudian waktu. Ya Allah salahkah jika hambamu ini
menyambung nyawa, namun apakah ini jalan yang engkau ridhai.
Santri
itu menatap makanan diatas meja, disana ada beberapa remah roti gandum dan sup
yang cukup banyak. ia berharap bisa mengambil rotinya satu dan memakannya.
Ketika hendak memakan roti itu, ia letakan kembali dan beristigfar
sejadi-jadinya. Ia menyesali prilakunya, ia sudah masuk rumah orang tanpa
permisi malah berkenan memakan makanan yang bahkan ia belum izin sebelumnya. Ia
meratapi itu semua diatas kursi milik janda tersebut. Tiba-tiba suara pintu
berbunyi. Pintu terbuka, dan janda itu masuk kedalam rumah.
Santri
itu dengan cepat bersembunyi, ia mencari sudut ruang yang sekiranya tidak bisa
ia ditemukan. Ia bersembunyi disudut lemari, ia berharap hadirnya tidak
diketahui sampai ia memperkenalkan dirinya dengan cara yang benar. Sejenak
kemudian, dengan kasar beberapa pria menendang pintu rumah janda itu, dan
membuat gelas yang janda itu pegang jatuh dan pecah berantakan. Komplotan pria
itu datang dengan membawa kayu ditangan kanannya, dan berbicara kasar kepada
janda itu.
“gara-gara
dirimu, aku dikehilangan pekerjaan. Pasti kamu berzina dengan pemilik toko.
Soalnya apa yang menyangkut soal dirimu selalu dibenarkan. Dan apa-apa yang
menyangkut soal diriku selalu saja disalahkan” uca pria itu dengan nada
membentak
“mohon
maaf, saya benar karena pekerjaan yang saya lakukan adalah benar, dan jujur.
Sedangkan dirimu saya tidak tahu apakah pekerjaanmu dibumbui dengan kecurangan
dan kemaksiatan atau tidak” balas janda itu. Pria itu semakin marah dan
kemudian menampar wanita itu
“alah
banyak omong kamu. Dasar pezina”
Rekannya
yang lain melakukan hal yang sama. Ia menganiaya tanpa memberikan kesaksian dan
bukti. Santri yang bersembunyi itu merasa geram. Ia tidak tega melihat
seseorang yang didzalimi tersebut. Seketika ia keluar dari persembunyiannya
dengan cepat, dan melancarkan pukulan dengan keras tepat ke wajah pria yang
pertama kali menampar wanita itu.pria itu jatuh, rekannya yang lain kaget bukan
kepalang, terjadilah baku pukul yang sengit antara santri dan komplotan pria
itu jatuh. Dengan kuasa dan izin Allah santri itu menang, santri itu memberikan
tanggapan bahwa “menuduh seorang wanita
melakukan zina dan tidak dapat memberikan kesaksian oleh 4 orang saksi, itu
sama saja dengan melakukan fitnah. Dan apabila itu bukan sebuah kebenaran, maka
orang-orang penuduh itu berhak mendapatkan hukuman yang setimpal dengan fitnah
yang telah dilontarkan”
Kelompok
pria itu kemudian berdiri, ketika hendak memukul santri itu kembali datang
sekelompok warga yang mendengar kerusuhan tersebut. Warga yang hadir memisahkan
pertikaian mereka dan menyuruh semuanya pulang kerumah masing-masing. Santri
itu juga meninggalkan rumah sang pemilik, dipintu ketika ia hendak keluar,
wanita itu menghampirinya
“terimakasih
atas semua bantuannmu, wahai pria yang baik budinya” ucap wanita itu
Santri
yang mendengar itu, kemudian mulai menangis mengingat kesalahannya hendak
mengambil makanan dan masuk tanpa permisi. Ia memohon maaf atas kelakuannya dan
menjelaskan kronolgis yang terjadi dan kesusahan yang menimpa dirinya.
“justru
saya yang berterimakasih, karena hadirnya dirimu yang tidak terduga, seperti
keselamatan yang diberikan oleh tuhan secara sengaja, oleh sebab itu terimalah
semua makanaku ini dan terimalah beberapa dirham uang ini” balas wanita
tersebut.
Santri
itu merasa sungkan, atas keburukan niatnya ia malah mendapatkan hadiah yang ia
idamkan itu.
“maaf
akan tetapi, saya merasa tidak pantas jika hanya menerima hadiah ini sebagai
percuma, maukah engkau mempekerjakanku sehingga aku bisa menerima himkah dari
makanan yang engkau berikan”
Wanita
itu tersipu malu, tidak pernah ia menjumpai pria dengan kelembutan dan
kehati-hatian akhlak seperti pria tersebut.
“kalau
begitu, jadilah suamiku, maka kau dapat menunaikan pekerjaanmu sebagai imam dan
kepala keluarga untuk diriku” santri itu semakin tertegun. Ia tidak menyangka
bahwa pekerjaan yang ia akan terima adalah sebagai seorang suami
“akan
tetapi..” belum sempat santri itu berbicara wanita itu kembali berkata
“untuk
maharnya adalah beberapa dirham ini, dan setelah menikahiku akan dimulailah
tugasmu untuk menjagaku dalam ketakwaan dan kehikmatan beribadah”
Pria
itu kembali berkecil hati. Inikah jawaban atas doa-doa yang ia panjatkan. Rizqi
yang sebenar-benarnya rizqi. Sebuah perhiasan yang mampu berkilau didunia
hingga akhirat. Akhirnya santri tu mengiayakan ajakan tersebut. Dan pada malam
itu, didalam masjid nabawi yang agung terjalinlah pernikahan atas dua orang
yang shalih dan shalihah itu. Disaksikan oleh para guru, masyarakat dan jutaan
malaikat.
Komentar
Posting Komentar