Benang-Benang Takdir
Wonosari, jogja 8 februari 2004
Hujan menyapaku setiap saat, mulai dari
malam hingga sang surya bertahta dicakrawala. Hujan juga yang menjadi kawanku,
setelah sandal dan juga payung kuning dengan gambar dora the exsplorer
diatasnya. Jujur sebenernya aku tidak ingin memakai payung tersebut, aku lebih
memilih lari dan hujan-hujanan daripada nanti aku terlihat ke sekolah memakai
payung kuning pembawa malu tersebut. Namun ya begitulah, aku yang menjadi anak
ke-3 dari 3 bersaudara, dan kakak-kakakku semuannya adalah wanita, yang
menjadikan aku harus menerima semua benda bekas kakakku itu. Meski begitu, aku
tetap menerima, walau terkadang malu juga menggenakan benda-benda wanita.
Menantang hujan berarti harus siap
dengan seluruh resiko basah yang diterima, ku lihat jam tanganku, sudah
menujukan jam 06.51. sial kurang 9 menit lagi, gerbang sekolahku SMA Muhammadiyah
Darus Sa’adah akan ditutup. Aku bergegas mempercepat langkah, yang awalnya
hanya sekedar jalan santai, sekarang aku harus berlari, dan seperti yang
dibayangkan. Berlari menantang hujan dan angin berdampak juga terhadap payung
dan bawaan yang terdapat dipunggung. Dan benar saja, belum sempat jauh berlari,
sang payung sudah terbalik ke atas, besi dari ujung-ujung payung kuning
tersebut juga banyak yang copot. Sungguh
menyebalkan.
Aku tiba di sekolah tepat pukul 07.00.
bertepatan dengan pak satpam dengan kumis tebalnya mendorong gerbang sekolah,
kemudian menutupnya. Lalu untuk payung kuningku, benar aku tinggalkan saja dia
dipohon, tatkala aku benar-benar sebal karena payung tersebut tak kunjung bisa
aku benarkan. Jadi dapat dibayangkan aku berlarian sambil menantang hujan, dan
benar 70 persen dari apa yang aku kenakan basah oleh air. Kecuali buku, sebab
dari rumah sudah aku bungkus dengan kresek, untuk jaga-jaga jikalau ada yang
tidak beres.
Aku masuk ke kelas dengan kondisi
seperti cucian, basah, kumel, jelek. Namun tak apa daripada hanya diam dirumah
tanpa menambah satu sari ilmu dalam diri. Menurutku perjuangku tidaklah percuma,
semua berarti bagi setiap pencari ilmi. Hujan dan badai adalah sahabat akrabku.
Setelah menjadi tontonan kawan-kawan kelas lain yang saling acuh, sahabat
karipku Alfian menghampiriku kemudian menepuk bahuku
‘kalau pengen mandi, jangan dengan seragam sekolah dong
yan..’ ucapnya dengan gaya sedikit mengejek.
‘haha kamu tidak tau sih, tadi itu aku sebenarnya
sudah mandi dirumah, tapi di gorong-gorong ada komodo yang tidak bisa berenang,
sebab itu aku tolong’
‘kamu ambil biawak tadi?’
‘iya, terus aku jorokin! Hahaha!’ ucapku lalu
diikuti tawa kami berdua.
Dan benar itulah fian, teman yang selalu
bisa menghiburku tatkala sedih, dan teman yang menyenangkan tatkala bemain,
serta teman yang bijaksana tatkala membantu memberikan keputusan.
Seusai pelajaran selesai, aku hanya diam
dikelas, ditemani Alfian dan teman-teman yang lain, disatu sisi ada beberapa
teman kelas yang makan gorengan dimejanya sendiri, disisi lain ada yang menggerombol
membentuk forum sendiri, biasa kaum-kaum wanita. Aku sendiri menjemur pakaianku
didepan jendela samping bangkuku, dengan harapan ia mau kering. Disela-sela aku
menjemur, fian tiba-tiba menepuk bahu ku. Sontak aku membalikan badan, ketika
aku membalikan badan, terlihat wanita idamanku melintas didepan kelasku, ia
tampak anggun dengan seragam putih abu-abunya, terlebih lagi jilbabnya yang
panjang, dan suaranya yang lembut ketika berbicara, menambah nilai plus bagi
wanita paling cantik dimataku itu.
‘mau sampai kapan yan, kamu mau memendam perasaan
terus. Ungkapin lah, cowok itu harus berani!’ ucap fian keras
‘tidak semudah itu ian..’ jawabku melas
‘tinggal bilang ajah kok ribet, jelas-jelas sudah
saling kenal, untuk apa harus malu. Begini, dekati orangnya, ajak ngobrol
masalah sekolah atau apalah, terus minta nomor hp nya, kelar’ ucapnya lagi dengan
bantuan aksen tangan seperti motivator ulung.
Mendengar ucapan fian, aku hanya bisa
mematung sembari melihat langkah dwi yang perlahan menjauh.
Dwi awalnya adalah teman semasa aku
kecil, rumahnya tepat disebelah rumahku. Ia adalah anak ke-2 dari 3 bersaudara,
kakaknya juga adalah wanita yang cantik, mungkin sekarang sudah masuk
universitas dibandung. Ayahnya adalah seorang peneliti kimia disebuah industri
timah dan penggolahan baja, dan karena urusan kerja sang ayahnya lah yang
membuat aku kehilangan kawan bermainku itu, setelah 10 tahun berpisah, ia beserta
keluarga kembali ke jogja, dengan anggota keluarga yang baru yang kami sebut
adik. Kabar ia kembali baru aku ketahui ketika seorang guru mengenalkan murid
baru yang masuk ke sekolah kami, murid wanita yang sanggat cantik. Dan itu
adalah dia, anak kecil yang menjadi kawan bermainku kini menjelma menjadi
wanita cantik yang sanggat anggun, disaat itulah aku jatuh hati kepadanya.
Wonosari, jogja 4 april 2004
Musim hujan dibulan februari, berganti
dengan musim panas ketika memasuki bulan april. Daun yang awalnya hanya
tertimpa butiran air, sekarang tumbuh dan membawa warna hijau yang mencerahkan.
Burung yang biasanya hanya diam disarang sekarang bebas berterbangan menjadi
penghias langit Bungga yang awalnya hanya bisa tertuntuk sekarang berdiri
gagah, seakan mengatakan ia telah berhasil melalui ujian berat. Dan sepertinya
ujian berat itulah yang sebentar lagi akan menjadi tantangan untukku dan
teman-teman OSIS lainnya..
Menjadi sebuah rutinitas sekolah untuk
setiap tahun membuat buku tahunan bagi kakak kalas yang sebentar lagi akan
lulus, dan sudah menjadi proker OSIS juga untuk siswa kelas 2 yang menjabat
OSIS untuk menjadi panitia penyusunan buku tahunan tersebut, jadi bulan april
adalah bulan yang padat jadwal, seiring dengan tangung jawab yang semakin
banyak. Lalu dimana Alfian, yaps. Ia bukan anggota OSIS, ia lebih senang
menggeluti bakat minatnya dibidang olahraga daripada menjadi seorang
organistatoris, dan hal itu bukan merupakan hal yang buruk, kita berhak
menentukan jalan penggembangan diri mana yang kita pilih, menjadi olahragawan
maupun organistatoris dua-duanya merupakan hal baik, daripada menghabiskan usia
muda dengan pacaran dan cinta-cintaan, menurutku lebih baik begini.
Hampir setiap minggu aku dan teman-teman
OSIS melakukan rapat, sang ketua memotivasi bahwa buku tahunan yang kita buat
tahun ini harus lebih bagus dari tahun kakak kelas kami yang lalu, lalu kami
merapatkan prihal isi sang buku, banyak usulan yang masuk dalam forum, seperti
cerpen tentang pesantren, puisi-puisi, penggolahan lokal karya, prestasi
sekolah, dan lain sebagainya. Kamipun dibagi menjadi beberapa kelompok
wartawan, satu kelompok terdiri dari 3 orang yang masing-masing mahir
dibidangnya, dalam satu kelompok, harus ada yang pandai menulis, foto atau
videografi dan public speaking. Dan kami juga diberikan jobdish sesuai tema
atau konten yang menjadi masukan dalam forum diskusi dan telah disetujui oleh
Pembina guru. Jadilah kala itu aku kedapatan meliput orang-orang yang memiliki
prestasi didalam maupun diluar sekolah, dan yang menjadikanku semangat serta
takut dalam hal ini adalah, salah satu orang yang akan aku wawancarai adalah Dwi
yang kemarin baru saja memenangkan juara Qori Al-Qur’an dengan menyabet
pringkat pertama se-kabupaten Jogja.
Wonosari Jogja
29 April 2004
Hari inipun tiba, hari dimana aku akan
mewawancarai Dwi setelah kemarin surat OSIS yang dikirimkan telah diterima dan
telah di ACC oleh Dwi. Perihal aku yang akan mewawancarai Dwi, alfian kembali
menginggatkan diriku sebelum aku berangkat ke perpustakaan, tempat rencana kami
akan bertemu narasumber.
‘yan, ini adalah kesempatan yang baik untuk memupuk
kembali hubungan yang awalnya telah terpisah, ayo! Manfaatkan situasi ini! Ajak
ia bicara setelah selesai wawancara, selesai’ ucapnya tegas, aku bisa melihat
ada raut wajah bosan dan serius dalam waktu yang sama, yang lagi-lagi terpancar
dari wajah kawan baik-ku itu.
‘Ashiapp bos-ku!, doakan aku ya!’ ucapku berjalan
menjauh.
Dalam perjalan, menuju ke perpus. Sangat
terasa dadaku berdegum kencang, badanku tiba-tiba menjadi dingin, seiring
langkah kakiku yang kian berat. Diujung persimpangan kelas 7 A dilantai 2.
Terlihat kyai serta guru sepuh namanya Abah Asrori. Salah satu sosok orang yang
aku kagumi, selain karena ke ilmuannya, beliau juga pandai dalam menyusun
kalimat hikmah yang membuat aku dan santri yang lain terkagum karena
kebahasaanya.
Gedung sekolahku terdiri atas tiga
lantai dan tersusun berdasarkan angkatan, jadi untuk kelas 9 terletak dilantai
3, sedangkan untuk kelas 8 terletak dilantai 2 dan bebrapa kelas dari kelas 7,
sebab semakin bertambah lama, madrasah memiliki semakin banyak murid sehingga
beberapa kelas di lantai 2 menjadi kelas untuk murid kelas 7, sedangakan untuk
lantai 1 terdiri atas beberapa kelas 7 dan ruang OSIS serta kantor guru.
Perlahan aku mendekati beliau, dari
suara batuk yang terdengar keras, sepertinya beliau sedang dalam kondisi yang
tidak baik, namun masih saja disempatkan menggajar. Lalu ketika hampir 5 meter
jarakku dengan beliau, tiba-tiba ia batuk hebat hingga terjatuh tak sadarkan
diri.
Aku yang melihatnya, kontan langsung
belari lalu mengangkat kepala beliau, dan sontak aku berteriak meminta bantuan.
Kemudian banyak siswa dan guru berbondong-bondong menghampiri, aku membantu
bapak guru membopong Abah Asrory, serta membawakan tas dan buku-buku beliau,
dan kami langsung membawa beliau ke puskesmas terdekat. Siang tak terasa
menjadi sore, seiring dengan cerita kronologi kecelakaan yang sering bapak guru
tanyakan, dan aku sadar betul bahwa aku gagal akan pertemuanku dengan Dwi.
Sebuah kesempatan seumur hidup, yang mungkin dimasa depan tidak akan terulang
ke kali kedua. Kesal, marah, ingin ku teriak sejadi-jadinya kala itu, apalah
daya, takdir sudah terjadi. Dalam perenungan yang tiada henti aku teringat
dengan dua temanku, Euis dan Salafi, apakah mereka jadi melakukan wawancara
atau sebaliknya, pikirku.dan pertanyaan itu terjawab keesokan harinya.
Wonosari, jogja 30 April 2004
Keesokan hari nya aku mencari kabar
terkait wawancaraku dengan dwi yang gagal total. Terlepas dari benakku,
wawancara dengan Dwi tetap dilangsungkan, meski tanpa aku ikut terlibat.
Pertanyaan yang diajukan pun sedikit diubah, sesuai keadaan teman-teman yang
lain, namun masih dalam satu tema. Menggetahui akan hal itu, tubuhku perlahan
lemas, aku terduduk didepan temanku, seakan ada yang meluciti sendi dalam
tulang. Dada perlahan mulai terasa sesak, bertahap namun pasti sakit itu makin
membumbung, tak tau kenapa, seolah ada bagian tubuh yang ter iris, namun tidak
ada darah yang menetes, akan tetapi akan selalu ada bekas yang tertinggal dalam
setiap hati yang tersakiti.
Wonosari, jogja 19 juni 2004
Hari yang dinantikan wisudawan sekolah,
kakak kelas hari ini undur pamit pada kami semua, rasa haru dari kakak kelas
baik wanita maupun pria menjadi padu dalam momen ini. Acara dibuka oleh kepala
sekolah, dilanjutkan dengan paduan suara sekolah, sajian pengajian dan rebana
dan juga penyerahan penghargaan siswa berprestasi dan wejangan dari para wali
murid dan wali kelas masing-masing pada setiap anak didiknya. Aku kala itu
menjadi panitia acara bersama teman-teman OSIS yang lain. Acarapun ditutup dengan
doa dari Abah Asrory, selanjutnya para murit saling berfoto ria, bahkan ada
yang menanggis. Sungguh suasana yang haru. Selepas acara aku dan yang lain
melepas lelah diruang OSIS sambil menikmati makanan bekas acara. Disaat yang
sama, ada seorang datang dan menggetuk pintu ruangan. Aku yang paling dekat
dengan pintu, menjadikan aku yang wajib membukanya. Dibalik daun pintu ternyata
Firman, siswa kelas 7 B sekaligus santri mukim dipondok pesantren Abah Asrory
‘mas dian, mas dipanggil abah nanti sore ke rumah’
‘ada keperluan apa ya?’
‘aku tidak tahu, aku Cuma disuruh menyampaikan
amanah pesan saja’ sambungnya lalu undur diri.
Sore harinya seperti yang diamanahkan,
aku pergi ke pesantren Abah Asrory, sarung dan peci juga melekat bersama tubuh.
Inggat ini kepesantren, didepan pintu rumah aku disambut oleh Abah, aku pun
langsung dipersilahkan masuk dan duduk. Didalam pembicaraan Abah menuturkan
bahwa ia merasa sanggat berterimakasih karena ketika beliau jatuh ada aku yang
menolongnya. Rasa penasaran yang belum sempat kutanyakanpun langsung terjawab,
Abah kembali menuturkan dari para guru bahwa selain guru-guru yang menolong ada
juga seorang murid yang turut membantu, bahkan ialah yang paling berjasa. Sekan
disanjung oleh sang panutan, aku hanya bisa tawadu’ mengarap berkah ilmu dari
Abah dan Allah semata. Abah pun turut mengamini.
Ditenggah perbincangan datang seorang
wanita yang sangat aku kenal, ia membawakan minnum dan makanan dari dalam
kediaman Abah. Hal tersebut sontak membuat aku teriak
‘DWI..!!’ ucapku tanpa sadar, ingin rasanya aku
menghilang kala itu
Sepertinya dwi pun merasakan hal yang sama, ia
terkejut bukan kepalang, begitu juga Abah Asrory.
‘siapa ya.?, kok kamu tau namaku’ Ucap dwi spontan
Lalu saat itu, seakan mendapat dorongan
yang entah dari mana, aku menjelaskan bahwa aku adalah Diyan sahabat ia waktu
kecil, aku juga menjelaskan bahwa kita satu sekolah dan pria yang tak sempat
ikut wawancara itu adalah aku. Jadilah kala itu aku menjelaskan semuanya, abah
sebagai penenggah kami, saat itu juga aku baru tahu bahwa Abah Asrory adalah
pamannya dwi. Tanpa ku duga dwi pun masih mengginggatku, ia berkata bahwa aku
telah berubah menjadi pria yang lebih tampan. Percakapan kami pun menggalir,
perlahan namun pasti kedekatan kami yang awlanya renggang oleh ruang waktu
sekarang seakan kembali pada tata dimensi yang sama. Seiring berjalannya waktu
kami berubah menjadi sosok yang lebih dekat, hingga akhirnya membuat kami
berdua bermuara pada satu perasaan yang sama.
nah ini km nulis beginian di opsi postingan atau halaman?
BalasHapuseh udh terjawab
BalasHapus