Impian Kecil Ku

Suara sepeda lalu lalang ditaman kampung, dengan berhias tawa dari setiap anak-anak yang sibuk bergelut dengan debu dan keringat. Tampak disebelah utara, dibawah pohon jambu yang tidak pernah mengeluh untuk selalu kami ambil buahnya, ada anak-anak wanita yang sibuk bermain dengan anak wanita yang lain. Bermain masak-masakan, lengkap dengan peran pembeli serta preman-premannya. Disisi tenggah ada sebuah lapangan yang cukup luas, disana banyak anak laki-laki sedang bermain bentengan, lengkap dengan orang-orang yang kalah dalam permainan yang menyemangati kawannya untuk bersembunyi lalu menjatuhkan piramida singkong tersebut, agar yang kalah permainan terbebas dari hukuman. Begitulah kami anak-anak kampung yang kesehariannya hanya berfikir tentang belajar, dan bermain. Akan tetapi aku berbeda, semenjak sepeninggalnya ayah dari melaut, selepas sekolah aku membantu ibu berjualan es lilin mengelilinggi kampung. Dan yang lebih menyenangkannya lagi, pembeli setiaku adalah kawan-kawan bermainku sendiri, mereka tidak pernah sungkan bermain dengan diriku, bahkan sebaliknya mereka selalu memberiku semangat untuk menyambung sekolah, menjadikan diriku selalu bersyukur memiliki kawan-kawan yang hebat seperti mereka.

Dedikasi kehidupan, menjadikan aku sosok yang tidak pernah pantang menyerah dalam bersekolah. Lulus dari sekolah dasar, dengan menyabet pringkat teratas aku melangkahkan kakiku menuju sebuah sekolah favorit yang paling dekat dengan rumah, berharap mampu menimba ilmu dari sebuah sekolah terbaik  dan kembali menyambung kebutuhan keluarga, namun naas sekolah tersebut hanya menerima anak-anak metropolitan yang berkantong tebal, aku menyarah akan hal itu. Alhasil aku hanya bersekolah disebuah madrasah sekaligus menjadi santri disana. Awal mengetahui keinginan ibuku aku merasa terbebani, tidak mungkin aku meningalkan beliau mencari uang sendirian dan mengurusi satu adek kecilku yang belum mampu untuk ditinggal. Akan tetapi ibu menyakinkan, ia mendorongku sampai detik ini agar aku mampu untuk memperbaiki perekonomian keluarga sekaligus ia kembali mengingatkan akan janjiku untuk menunaikannya haji, bersama aku dan juga adek tunggalku.

Memasuki lingkungan baru dipesantren aku menjelma menjadi seorang santri, dan aku menanamkan sebuah prinsip dalam hidupku, bahwa aku tidak akan menyusahkan ibuku di kampung, oleh karenanya aku capat beradabtasi dengan lingkungan sekitar, belajar dengan giat agar aku mampu menyusul ketertinggalanku dengan yang lain, sekaligus memupuk persahabatan dengan siapa saja. Kebetulan aku pandai dalam memasak, maklum sebuah ketrampilan yang awalnya bentuk dari keterpaksaan dirumah, akan tetapi keterampilan tersebut mem-buahkan buah yang manis. Banyak para santri ingin dimasakan oleh koki cilik seperti diriku, meskipun aku hanya bisa memasak sesuatu yang sederhana, seperti tempe penyet, ongseng terong dan juga pepes ikan, akan tetapi mereka suka dan hal tersebut diliat oleh abah kyai hingga suatu hari beliau memangilku

“le, kamu mau masakin abah pepes ikan nda? “ ucap abah diatas karpet sederhana diruang tamu ndalem. Aku yang saat itu memijat kaki beliau, kemudian merespon.

“jika abah memperkenankan saya untuk memasak apa yang abah khendaki, saya dengan senang hati akan memasakannya untuk abah” ucapku lirih, sambil sesekali mengurut kaki beliau.

            Kemudian suatu hari abah pulang dari bandengan, membawa 3 ekor ikan bandeng yang besar-besar didalam plastik, beliau  lantas memanggilku dan menyuruh aku memasakannya ikan pepes. Lalu dengan cekatan, titah tersebut segera aku lampaui. Memasak untuk sang kyai merupakan sebuah kebanggaan buatku, hingga akhirnya masakan tersebut bukan hanya makanan yang tercipta dari sebuah bumbu-bumbu masakan, akan tetapi lengkap dengan cinta serta keta’dhiman sebagai pelengkap rasanya. 3 ikan tersebut kemudian disajikan kepada keluarga dhalem serta tamu yang kebetulan hadir, untuk kali ini aku merasa khawatir akan apa yang sekiranya aku masak. Khawatir akan mengecewakan semua pihak yang memakan masakanku. Aku sendiri seusai memasak langsung kembali ke kamar, kembali membaca apa yang besok akan aku pelajari disekolah. Belum seuntai kertas habis oleh goresan pena, ada seorang santri yang menghampiri. Ia mengatakan bahwa keluarga dhalem serta para tamu yang hadir senang dengan masakanku. Aku pun bersyukur sekaligus bangga.

Seusai dengan tragedi ikan bakar, abah menjadikan aku sebagai tukang masak dipesantren dengan balasan uang spp aku dipesantren digratiskan hingga aku lulus dari pesantren. Sungguh menyenangkan rasanya. Bisa meringankan beban ibu yang tahun ini berusaha menyekolahkan adikku di sd kampung setempat.

Dimadrasah, waktu itu aku tepat menginjak bangku kelas 3 Mts. Ada seorang guru yang paling aku kagumi sosoknya. Beliau adalah bapak lubis. Beliau adalah pria muda lulusan dari universitas al- azhar dimesir, dalam mengajar beliau sering bercerita tentang perjalannya dalam berkuliah di mesir baik itu dalam pelajaran ataupun aku sendiri yang memaksa beliau untuk bercerita dilain kesempatan. Beliau adalah orang yang selalu berfikiran positif, selalu memberikan dorongan semangat bagi setiap murid-muridnya untuk berani kembali menjadi seorang pemimpi

“ketahuilah anak-anaku, dunia ini luas. Dari apa yang selama ini kita ketahui, diluar sana apa yang kita tahu hanyalah setitik buih dalam luasnya samudra ilmu. Bermimpilah setinggi angkasa! Milikilah cita-cita yang besar! Lalu berpetualanglah! Belajarlah yang jauh! Jadilah orang-orang yang akan memberikan perubahan terhadap keberlangsungan negeri ini” ujar beliau kala itu.

Saat itu juga aku berani menjadi seorang pemimpi, kambali membuka catatan masa lalu, dan aku menemukan mimpiku yang pernah membumbung tinggi bagai layangan yang engan pernah diturunkan angin, namun terkubur dalam bebetuan terjal ekonomi. Detik itu juga aku kembali memantabkan diri, bahwa aku harus mampu untuk kuliah dijepang.

Ditahun terakhir di Mts aku menghabiskan dengan mengikuti banyak kompetisi, bebab pak lubis pernah mengatakan untuk mengapai mimpiku aku harus menjadi insan yang berilmu dan memiliki segudang prestasi. Saat itu pula aku menjadi orang yang gila akan kompetisi, banyak bidang yang sering aku ikut sertakan seperti olimpiade fisika, olimpiade debat bahasa inggris, olimpiade pidato bahasa arab, serta lomba memasak dan sepakbola. Aku ikuti semua itu, meskipun banyak pula yang tidak memberikan hasil hingga aku lupa akan sakitnya kegagalan dan kembali mencoba untuk yang kesekian ribu kali. Menjadi penggila lomba selama 1 tahun membuahkan hasil yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Aku lulus dengan nilai ujian yang lumayan bagus, bisa dikatakan aku masuk dalam 3 besar peroleh hasil ujian terbaik se-kecamatan jepara. Namun menjadi seorang pelajar pertama yang lulus dengan segudang prestasi.

Seusai sesi kelulusan berakhir. Ibuku menerima hasil atas buah yang ia tanam, adik kecilku berlari menghampiri dengan berlinang tanggis. Kami kembali berpelukan, setelah lama menabung rasa rindu. Sedangkan ibuku hanya memegang tanganku erat, seakan tidak akan pernah melepaskan.

Lapas dari semua itu aku masih menjadi santri, aku masih berat meninggalkan tempat yang menjadi rumah dalam membina akhlakku, terutama aku berat melepas abah, beliau sudah aku anggap sebagai ayahku sendiri, walau tidak sedarah.

Mendekati masa-masa pendaftaran masuk sma, aku mengincar sekolah favorit yang ada dijepara. SMAN 1 jepara. Konon katanya lulusan dari sana banyak berkompeten dan mampu meraih beasiswa untuk pendidikan perkuliahan. Aku kembali melihat catatan kecilku, kembali memupuk semangat untuk meraih mimpi belajar di negeri seribu sakura. Kembali tanpa disangka seorang adik pondokku menghampiriku yang masih terdiam melihat catatan masa kecilku. Lalu menyerahkan dua lembar amplop coklat. Ketika aku Tanya dari siapa, ia membalas dari pak post. Kemudia kembali sepi ruang itu.

Kedua surat itu berisi tentang beasiswa dari dua sekolah negeri popular di luasnya kota jepara. SMAN 32 dan SMAN 11 Jepara. Dalam surat itu juga menuturkan bahwa aku mendapatkan beasiswa penuh dari awal hingga lulus sma, banyak juga teman-teman seagkatanku yang nantinya akan bersekolah disana. Seakan semesta tidak puas dengan itu kembali ada delegasi santri menghampiriku, menuturkan bahwa ada tamu yang menungguku dikediaman dhalem. Selepas tiba didhalem pak lubis menyambutku dengan senyum hangat. Aku yang kaget bukan main, lansung mencium tangan beliau kemudian memeluknya dengan sangat erat. Abah melihat kami dengan seuntai senyum bulan sabitnya. Disana kami berdiskusi, pak lubis menyampaikan bahwa sekolah memintanya untuk aku kembali belajar di MA yang satu yayasan dengan Mtsku dulu, akan tetapi aku juga memberitaukan bahwa tawarn itu juga diberikan oleh SMAN 32 dan SMAN 11 yang baru saja hadir. Dari diskusi tersebut muncul sebuah titik temu, yang mana aku disuruh untuk merenungkannya dengan shalat dan mujahaddah kepada tuhan. Sebab hanya ialah yang mampu memberi jawaban atas bimbangnya hati hambanya.

Diluar dari banyak perkiraan banyak temanku, aku akhirnya memutuskan untuk kembali pada madrasahku yang dulu, berharap untuk selalu dekat dengan abah serta pak lubis. Akhirnya aku kembali menghabiskan masa MA ku di satu yayasan yang sama seperti dahulu. Menghiasi dengan mimpi-mimpi yang selalu aku ingin pupuk kian tumbuh besar, hingga secercah harapan seakan menyinari perjalanan. Aku kembali menjadi seorang yang gila kompetisi dari kelas 10 hingga kelas 12 aku mengisi hariku dengan lomba-lomba yang bertebaran bagai bintang dijagat raya.

            Memasuki tahun terakhir, pasca ujian nasional. Aku datang menemui pak lubis untuk kesekian ribu kalinya. Dan beliau juga sudah keseribu kalinya mendengar penjelasanku tentang jepang. Namun kali ini aku datang dengan niat yang sungguh, aku ingin meminta bimbingan untuk dapat mendaftar ke universitas yang memang sudah akuu idam-idamkan dari kecil, yang sudah aku informasinya secara mendalam, hingga aku benar-benar memantabkan diriku untuk berlayar dan berlabuh disana. Dari beliau kami mendaftar bersama, mulai dari mendaftar kampus dan juga menyertakan beasiswa, hingga semua persyaratan terpenuhi tinggal menunggu akhir dari sebuah harapan.

Abah dan aku semakin dekat layaknya seorang anak dan orang tuanya, abah selalu mendukung apa yang aku citakan, dan aku selalu  berharap abah senantiasa mendoakan diriku. Dan waktu berlalu dengan sendirinya.

Hingga akhirnya tukang post datang untuk yang kedua kalinya ke pesantren, untuk kedua kalinya juga aku menerima amplop berwarna coklat dan untuk kedua kalinya aku merasa takut untuk membuka amplop tersebut. Aku memberikan amplop itu kepada abah dan ummi. Berharap dapat memberikan ketenangan. Saat itu pula disaksikan langsung oleh aku dan ummi, abah membuka amplop tersebut. Dibukanya isi amplop. Hanya ada selembar kertas, didalamnya tersirat sebuah nama Muhammad Ayyas, dibawahnya terdapat kalimat dengan cetak tebal yang bertulis Congratulations, you get a scholarship at Japanese Hokkaido University at the Faculty of Mathematics and Science, Department of Chemistry, Hokkaido University, Sapporo, Japan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bersatu

2 Tahun Menunggu = 2 Jam Bertemu

Chamu_stry